NITISEMITO,
PEMILIK PABRIK ROKOK NAN KREATIF Nitisemito lahir di Kudus tahun 1836 dan meninggal tahun 1953
adalah raja kretek Kudus, pemilik pabrik
kretek Tjap Bal Tiga. Nama pemberian orangtuanya adalah Rusdi. Anak dari pasangan Haji Sulaiman – Markanah, ayahnya seorang lurah di Desa
Janggalan, Kudus. Rusdi tidak bersekolah, dan tidak berniat menjadi lurah
sebagaimana ayahnya. Ia memilih menjadi pengusaha dan menyandang nama Jawa yaitu
Nitisemito
Pada tahun 1894
Nitisemito menikahi Mbok Nasilah. Dari pernikahan dua pengusaha tembakau inilah
perdagangan kretek berawal. Perpaduan antara racikan tembakau yang dilakukan
Mbok Nasilah, serta Nitisemito yang memegang kendali perusahaan, menjadikan
usaha mereka berdua berkembang sangat pesat. Awalnya, Nitisemito memberi merek rokoknya dengan nama yang aneh-aneh
seperti Tjap Kodok Mangan Ulo, Tjap Soempil, dan Tjap Djeroek. Saat usia
Nitisemito menginjak 53 tahun, pada tahun 1916 usahanya semakin
meningkat dan ia mulai resmi menggunakan nama Tjap Bal Tiga.
Namun, puncak kejayaannya ia raih pada tahun 1918, saat ia mendirikan pabrik rokok di Desa Jati, seluas 6
hektare. Pada masa sebelum Perang Dunia II, perusahaan rokok HM.
Nitisemito menjadi salah satu pabrik rokok terbesar di
Indonesia.
Di Kudus sendiri pada saat itu telah ada beberapa pabrik rokok yang berkembang
seperti Tjap Goenoeng Kedoe milik M.
Atmowidjojo, Tjap Delima milik HM. Muslich, Tjap Trio milik Tjoa Khang Hay,
Tjap Garbis & Manggis milik M. Sirin, Tjap Djangkar milik H. Ali Asikin.
Nitisemito adalah pengusaha pertama yang
melakukan promosi dengan menyewa pesawat Fokker dan menyebarkan pamflet kretek
dagangannya. Ia juga memberikan hadiah kepada pembeli rokok kreteknya dengan
gelas, piring, radio dan sebagainya. Pada tahun 1938 pabriknya
mempekerjakan buruh sebanyak 10.000 orang. Bahkan untuk menunjang usahanya yang
berkembang pesat, Nitisemito mempekerjakan seorang Belanda ahli
perbukuan. Produk rokok Nitisemito tersebar luas di pulau jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan
hingga Belanda. Sayangnya Nitisemito tidak
mempunyai generasi penerus, sehingga setelah ia meninggal pada tahun 1953 tidak ada yang mengurus usahanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar